Rabu, 02 April 2014

AYANA TENTANG ASTRONOMI HEULA


Kebudayaan dan Peradaban Islam; Perkembangan Ilmu Astronomi



Salah satu ilmu yang berkembang cepat di dunia Islam adalah astronomi. Dalam ilmu perbintangan, banyak ilmuwan muslim mempelajari metode Batlamyus dan karya-karya astronom asal Iran dan India. Setelah itu, mereka mampu melakukan berbagai inovasi di dunia astronomi seperti jam matahari, astrolabe, alat peneropong dan alat penentu waktu.
 
Astrolabe yang dibuat para ilmuwan muslim mempunyai ketelitian yang tidak kalah dengan ketelitian komputer saat ini. Dalam sejarah juga disebutkan bahwa para ilmuwan muslim di bidang penentuan waktu tercatat sebagai penggagas ilmu ini, bahkan Barat sendiri berkiblat kepada mereka.
 
Salah satu karya penting para ilmuwan muslim adalah upaya mereka dalam menentukan ciri-ciri bumi. Menurut sejarah, Makmoun, khalifah Dinasti Abbasiah saat itu, memerintahkan para astronom supaya menghitung luas planet bumi. Para ilmuwan di masa itu menelaah karya-karya Yunani dan kemudian berhasil menemukan metode baru yang luar biasa. Setelah itu, Abu Raihan Biruni menemukan inovasi baru dengan astrolobe untuk mengetahui wilayah planet bumi. Dalam karya yang terkenal dengan ilmu "jelajah bumi", Biruni menjelaskan inovasinya.
 
Di bidang ilmu perbintangan, kerja keras para ilmuwan muslim bermula dari penerjemahan karya-karya Batlamyus. Setelah itu, banyak karya-karya yang menjelaskan catatan Batlamyus. Terkait hal ini,  ilmuwan muslim seringkali mengkritik pandangan-pandangan Batlamyus dan menentang penjelasan ilmuwan asal Yunani ini. Saat ini,  pandangan para ilmuwan muslim di bidang ilmu perbintangan terkenal dengan istilah terori pra-copernicus.
 
Ada tiga karya terjemah dan penjelasan terkait perbintangan Batlamyus yang hingga sekarang masih ada. Tak dapat dipungkiri, karya-karya Batlamyus mendorong  para ilmuwan muslim menelaah ilmu perbintangan dan menghitung orbit planet-planet yang bernama zij. Dalam dunia Islam, jumlah zij mencapai 220.
 
Para astronom dalam berbagai risetnya berupaya mengungkap populasi bintang. Hasilnya, para ilmuwan berhasil mendapatkan data yang lengkap. Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Di antara masalah penting di dunia astronomi adalah menentukan masa tahun matahari. Riset panjang umat para ilmuwan muslim untuk mengetahui masa tahun matahari menghasilkan kalender di dunia Islam.
 
Terkait kalender tahun matahari tidak terlepas dari peran ilmuwan Muhammad Ibnu Jabir al-Harrani al-Batani dan Abu Jafar Muhammad ibn Hasan Khazini. Jasa al-Batani terhadap kalender Islam sangatlah besar. Di sini, al-Batani mengusulkan teori baru dalam menentukan kondisi terlihatnya bulan baru, yang kita sebut sebagai hilal. Tak hanya itu, al-Batani juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.
 
Sudut kemiringan bumi terhadap matahari saat berotasi juga ditemukan oleh al-Batani, yaitu sebesar 23035. Bahkan lamanya bumi berevolusi terhadap matahari, secara akurat mampu dihitung al-Batani sebanyak 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
 
Sejumlah karya al-Batani tentang astronomi, terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah "al-Zij al-Sabi". Kitab ini banyak dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad. Di dalam buku ini ditulis berbagai penemuannya, seperti penentuan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, koreksian hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan, dan planet-planet tertentu.
 
Di buku "al-Zij al-Sabi" juga al-Batani mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Tak heran, buku ini memiliki peran utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang di Eropa. Atas jasa-jasa al-Batani di bidang astronomi, nama al-Batani dijadikan nama salah satu kawah yang ada di bulan. Nama kawah tersebut adalah kawah Albategnius.
 
Sedangkan al-Khazini, astronom asal Persia, mempunyai peran penting di dunia ilmu perbintangan. Salah satu karya al-Khazin adalah  Zij al-Safa'ih, yakni sebuah tabel astrolabe. Inovasi al-Khazini diakui sebagai  karya terbaik dan dijadikan referensi bagi astronom setelahnya.  Dalam karya al-Khazini  dijelaskan table dan penjelasan terkait penggunaan astrobale. Akan tetapi sangat disayangkan, penemuan berharga itu hilang pada Perang Dunia II.
 
Hasil riset ilmuwan muslim benar-benar menghasilkan inovasi yang luar biasa sehingga teori-teori sebelumnya menjadi usang. Para ilmuwan muslim mempunyai banyak kritikan terkait teori Batlamyus. Meski pada awalnya para ilmuwan muslim mempelajari karya-karya Batlamyus, namun setelah itu, mereka mengkritik teori ilmuwan Yunani ini.
 
Selain al-Batani dan al-Khazini, Ibnu Sina juga disebut-sebut sebagai ilmuwan yang mengkritik pandangan Batlamyus. Dalam teori Batlamyus disebutkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Pandangan ini dikritik keras oleh Ibnu Sina dan para ilmuwan muslim lainnya.
 
Ilmuwan lainnya yang juga menentang Batlamyus adalah Khwaja Nasiruddin Tusi. Disebutkan pula, Abu Raihan Biruni, Ibnu Hisham dan ilmuwan lainnya juga mengkritik teori Batlamyus. Dengan demikian, hampir semua ilmuwan muslim mengkritik teori Batlamyus. Tusi mengkritik pandangan Batlamyus yang meyakini bahwa galaksi mengitari bumi. Pandangan Tusi ini juga didukung ilmuwan-ilmuwan di dunia Islam hingga Andalusia.
 
Astronom muslim lainnya yang relatif menonjol di dunia ilmu perbintangan adalah Ahmad bin Abdullah Marvazi. Ilmuwan melakukan penelitian di bidang ilmu perbintangan dari tahun 209 hingga 220 hijriah. Marvazi mempunyai teori sendiri  terkait penentuan waktu dengan ketinggian matahari.
 
Selain itu, Marwazi juga berhasil mempersembahkan berbagai tabel untuk menentukan gerakan horizontal dan vertikal bulan.
 
Abu al-Wafa Buzjani juga disebut-sebut sebagai  astronom muslim yang lahir pada tahun 328 hijriah.  Beliau termasuk ilmuwan yang tekun mempelajari  pergerakan bulan.  Disebutkan dalam sejarah, beliau memulai riset perbintangan di Baghdad. Buzjani  termasuk ilmuwan yang berkiprah dalam menentukan gerhana bulan bersama Abu Raihan Biruni.
 
Pada saat itu, Beiruni di Khwarzam dan Buzjani di Baghdad berniat melakukan penelitian terkait perbedaan masa geografi dan waktu antara pertengahan hari di dua kota tersebut. Sangat disayangkan, hampir seluruh karya Buzjani musnah. (IRIB Indonesia)

Salah satu ilmu yang berkembang cepat di dunia Islam adalah astronomi. Dalam ilmu perbintangan, banyak ilmuwan muslim mempelajari metode Batlamyus dan karya-karya astronom asal Iran dan India. Setelah itu, mereka mampu melakukan berbagai inovasi di dunia astronomi seperti jam matahari, astrolabe, alat peneropong dan alat penentu waktu.
 
Astrolabe yang dibuat para ilmuwan muslim mempunyai ketelitian yang tidak kalah dengan ketelitian komputer saat ini. Dalam sejarah juga disebutkan bahwa para ilmuwan muslim di bidang penentuan waktu tercatat sebagai penggagas ilmu ini, bahkan Barat sendiri berkiblat kepada mereka.
 
Salah satu karya penting para ilmuwan muslim adalah upaya mereka dalam menentukan ciri-ciri bumi. Menurut sejarah, Makmoun, khalifah Dinasti Abbasiah saat itu, memerintahkan para astronom supaya menghitung luas planet bumi. Para ilmuwan di masa itu menelaah karya-karya Yunani dan kemudian berhasil menemukan metode baru yang luar biasa. Setelah itu, Abu Raihan Biruni menemukan inovasi baru dengan astrolobe untuk mengetahui wilayah planet bumi. Dalam karya yang terkenal dengan ilmu "jelajah bumi", Biruni menjelaskan inovasinya.
 
Di bidang ilmu perbintangan, kerja keras para ilmuwan muslim bermula dari penerjemahan karya-karya Batlamyus. Setelah itu, banyak karya-karya yang menjelaskan catatan Batlamyus. Terkait hal ini,  ilmuwan muslim seringkali mengkritik pandangan-pandangan Batlamyus dan menentang penjelasan ilmuwan asal Yunani ini. Saat ini,  pandangan para ilmuwan muslim di bidang ilmu perbintangan terkenal dengan istilah terori pra-copernicus.
 
Ada tiga karya terjemah dan penjelasan terkait perbintangan Batlamyus yang hingga sekarang masih ada. Tak dapat dipungkiri, karya-karya Batlamyus mendorong  para ilmuwan muslim menelaah ilmu perbintangan dan menghitung orbit planet-planet yang bernama zij. Dalam dunia Islam, jumlah zij mencapai 220.
 
Para astronom dalam berbagai risetnya berupaya mengungkap populasi bintang. Hasilnya, para ilmuwan berhasil mendapatkan data yang lengkap. Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Di antara masalah penting di dunia astronomi adalah menentukan masa tahun matahari. Riset panjang umat para ilmuwan muslim untuk mengetahui masa tahun matahari menghasilkan kalender di dunia Islam.
 
Terkait kalender tahun matahari tidak terlepas dari peran ilmuwan Muhammad Ibnu Jabir al-Harrani al-Batani dan Abu Jafar Muhammad ibn Hasan Khazini. Jasa al-Batani terhadap kalender Islam sangatlah besar. Di sini, al-Batani mengusulkan teori baru dalam menentukan kondisi terlihatnya bulan baru, yang kita sebut sebagai hilal. Tak hanya itu, al-Batani juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.
 
Sudut kemiringan bumi terhadap matahari saat berotasi juga ditemukan oleh al-Batani, yaitu sebesar 23035. Bahkan lamanya bumi berevolusi terhadap matahari, secara akurat mampu dihitung al-Batani sebanyak 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
 
Sejumlah karya al-Batani tentang astronomi, terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah "al-Zij al-Sabi". Kitab ini banyak dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad. Di dalam buku ini ditulis berbagai penemuannya, seperti penentuan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, koreksian hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan, dan planet-planet tertentu.
 
Di buku "al-Zij al-Sabi" juga al-Batani mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Tak heran, buku ini memiliki peran utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang di Eropa. Atas jasa-jasa al-Batani di bidang astronomi, nama al-Batani dijadikan nama salah satu kawah yang ada di bulan. Nama kawah tersebut adalah kawah Albategnius.
 
Sedangkan al-Khazini, astronom asal Persia, mempunyai peran penting di dunia ilmu perbintangan. Salah satu karya al-Khazin adalah  Zij al-Safa'ih, yakni sebuah tabel astrolabe. Inovasi al-Khazini diakui sebagai  karya terbaik dan dijadikan referensi bagi astronom setelahnya.  Dalam karya al-Khazini  dijelaskan table dan penjelasan terkait penggunaan astrobale. Akan tetapi sangat disayangkan, penemuan berharga itu hilang pada Perang Dunia II.
 
Hasil riset ilmuwan muslim benar-benar menghasilkan inovasi yang luar biasa sehingga teori-teori sebelumnya menjadi usang. Para ilmuwan muslim mempunyai banyak kritikan terkait teori Batlamyus. Meski pada awalnya para ilmuwan muslim mempelajari karya-karya Batlamyus, namun setelah itu, mereka mengkritik teori ilmuwan Yunani ini.
 
Selain al-Batani dan al-Khazini, Ibnu Sina juga disebut-sebut sebagai ilmuwan yang mengkritik pandangan Batlamyus. Dalam teori Batlamyus disebutkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Pandangan ini dikritik keras oleh Ibnu Sina dan para ilmuwan muslim lainnya.
 
Ilmuwan lainnya yang juga menentang Batlamyus adalah Khwaja Nasiruddin Tusi. Disebutkan pula, Abu Raihan Biruni, Ibnu Hisham dan ilmuwan lainnya juga mengkritik teori Batlamyus. Dengan demikian, hampir semua ilmuwan muslim mengkritik teori Batlamyus. Tusi mengkritik pandangan Batlamyus yang meyakini bahwa galaksi mengitari bumi. Pandangan Tusi ini juga didukung ilmuwan-ilmuwan di dunia Islam hingga Andalusia.
 
Astronom muslim lainnya yang relatif menonjol di dunia ilmu perbintangan adalah Ahmad bin Abdullah Marvazi. Ilmuwan melakukan penelitian di bidang ilmu perbintangan dari tahun 209 hingga 220 hijriah. Marvazi mempunyai teori sendiri  terkait penentuan waktu dengan ketinggian matahari.
 
Selain itu, Marwazi juga berhasil mempersembahkan berbagai tabel untuk menentukan gerakan horizontal dan vertikal bulan.
 
Abu al-Wafa Buzjani juga disebut-sebut sebagai  astronom muslim yang lahir pada tahun 328 hijriah.  Beliau termasuk ilmuwan yang tekun mempelajari  pergerakan bulan.  Disebutkan dalam sejarah, beliau memulai riset perbintangan di Baghdad. Buzjani  termasuk ilmuwan yang berkiprah dalam menentukan gerhana bulan bersama Abu Raihan Biruni.
 
Pada saat itu, Beiruni di Khwarzam dan Buzjani di Baghdad berniat melakukan penelitian terkait perbedaan masa geografi dan waktu antara pertengahan hari di dua kota tersebut. Sangat disayangkan, hampir seluruh karya Buzjani musnah. (IRIB Indonesia)
Salah satu ilmu yang berkembang cepat di dunia Islam adalah astronomi. Dalam ilmu perbintangan, banyak ilmuwan muslim mempelajari metode Batlamyus dan karya-karya astronom asal Iran dan India. Setelah itu, mereka mampu melakukan berbagai inovasi di dunia astronomi seperti jam matahari, astrolabe, alat peneropong dan alat penentu waktu.
 
Astrolabe yang dibuat para ilmuwan muslim mempunyai ketelitian yang tidak kalah dengan ketelitian komputer saat ini. Dalam sejarah juga disebutkan bahwa para ilmuwan muslim di bidang penentuan waktu tercatat sebagai penggagas ilmu ini, bahkan Barat sendiri berkiblat kepada mereka.
 
Salah satu karya penting para ilmuwan muslim adalah upaya mereka dalam menentukan ciri-ciri bumi. Menurut sejarah, Makmoun, khalifah Dinasti Abbasiah saat itu, memerintahkan para astronom supaya menghitung luas planet bumi. Para ilmuwan di masa itu menelaah karya-karya Yunani dan kemudian berhasil menemukan metode baru yang luar biasa. Setelah itu, Abu Raihan Biruni menemukan inovasi baru dengan astrolobe untuk mengetahui wilayah planet bumi. Dalam karya yang terkenal dengan ilmu "jelajah bumi", Biruni menjelaskan inovasinya.
 
Di bidang ilmu perbintangan, kerja keras para ilmuwan muslim bermula dari penerjemahan karya-karya Batlamyus. Setelah itu, banyak karya-karya yang menjelaskan catatan Batlamyus. Terkait hal ini,  ilmuwan muslim seringkali mengkritik pandangan-pandangan Batlamyus dan menentang penjelasan ilmuwan asal Yunani ini. Saat ini,  pandangan para ilmuwan muslim di bidang ilmu perbintangan terkenal dengan istilah terori pra-copernicus.
 
Ada tiga karya terjemah dan penjelasan terkait perbintangan Batlamyus yang hingga sekarang masih ada. Tak dapat dipungkiri, karya-karya Batlamyus mendorong  para ilmuwan muslim menelaah ilmu perbintangan dan menghitung orbit planet-planet yang bernama zij. Dalam dunia Islam, jumlah zij mencapai 220.
 
Para astronom dalam berbagai risetnya berupaya mengungkap populasi bintang. Hasilnya, para ilmuwan berhasil mendapatkan data yang lengkap. Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Di antara masalah penting di dunia astronomi adalah menentukan masa tahun matahari. Riset panjang umat para ilmuwan muslim untuk mengetahui masa tahun matahari menghasilkan kalender di dunia Islam.
 
Terkait kalender tahun matahari tidak terlepas dari peran ilmuwan Muhammad Ibnu Jabir al-Harrani al-Batani dan Abu Jafar Muhammad ibn Hasan Khazini. Jasa al-Batani terhadap kalender Islam sangatlah besar. Di sini, al-Batani mengusulkan teori baru dalam menentukan kondisi terlihatnya bulan baru, yang kita sebut sebagai hilal. Tak hanya itu, al-Batani juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.
 
Sudut kemiringan bumi terhadap matahari saat berotasi juga ditemukan oleh al-Batani, yaitu sebesar 23035. Bahkan lamanya bumi berevolusi terhadap matahari, secara akurat mampu dihitung al-Batani sebanyak 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
 
Sejumlah karya al-Batani tentang astronomi, terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah "al-Zij al-Sabi". Kitab ini banyak dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad. Di dalam buku ini ditulis berbagai penemuannya, seperti penentuan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, koreksian hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan, dan planet-planet tertentu.
 
Di buku "al-Zij al-Sabi" juga al-Batani mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Tak heran, buku ini memiliki peran utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang di Eropa. Atas jasa-jasa al-Batani di bidang astronomi, nama al-Batani dijadikan nama salah satu kawah yang ada di bulan. Nama kawah tersebut adalah kawah Albategnius.
 
Sedangkan al-Khazini, astronom asal Persia, mempunyai peran penting di dunia ilmu perbintangan. Salah satu karya al-Khazin adalah  Zij al-Safa'ih, yakni sebuah tabel astrolabe. Inovasi al-Khazini diakui sebagai  karya terbaik dan dijadikan referensi bagi astronom setelahnya.  Dalam karya al-Khazini  dijelaskan table dan penjelasan terkait penggunaan astrobale. Akan tetapi sangat disayangkan, penemuan berharga itu hilang pada Perang Dunia II.
 
Hasil riset ilmuwan muslim benar-benar menghasilkan inovasi yang luar biasa sehingga teori-teori sebelumnya menjadi usang. Para ilmuwan muslim mempunyai banyak kritikan terkait teori Batlamyus. Meski pada awalnya para ilmuwan muslim mempelajari karya-karya Batlamyus, namun setelah itu, mereka mengkritik teori ilmuwan Yunani ini.
 
Selain al-Batani dan al-Khazini, Ibnu Sina juga disebut-sebut sebagai ilmuwan yang mengkritik pandangan Batlamyus. Dalam teori Batlamyus disebutkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Pandangan ini dikritik keras oleh Ibnu Sina dan para ilmuwan muslim lainnya.
 
Ilmuwan lainnya yang juga menentang Batlamyus adalah Khwaja Nasiruddin Tusi. Disebutkan pula, Abu Raihan Biruni, Ibnu Hisham dan ilmuwan lainnya juga mengkritik teori Batlamyus. Dengan demikian, hampir semua ilmuwan muslim mengkritik teori Batlamyus. Tusi mengkritik pandangan Batlamyus yang meyakini bahwa galaksi mengitari bumi. Pandangan Tusi ini juga didukung ilmuwan-ilmuwan di dunia Islam hingga Andalusia.
 
Astronom muslim lainnya yang relatif menonjol di dunia ilmu perbintangan adalah Ahmad bin Abdullah Marvazi. Ilmuwan melakukan penelitian di bidang ilmu perbintangan dari tahun 209 hingga 220 hijriah. Marvazi mempunyai teori sendiri  terkait penentuan waktu dengan ketinggian matahari.
 
Selain itu, Marwazi juga berhasil mempersembahkan berbagai tabel untuk menentukan gerakan horizontal dan vertikal bulan.
 
Abu al-Wafa Buzjani juga disebut-sebut sebagai  astronom muslim yang lahir pada tahun 328 hijriah.  Beliau termasuk ilmuwan yang tekun mempelajari  pergerakan bulan.  Disebutkan dalam sejarah, beliau memulai riset perbintangan di Baghdad. Buzjani  termasuk ilmuwan yang berkiprah dalam menentukan gerhana bulan bersama Abu Raihan Biruni.
 
Pada saat itu, Beiruni di Khwarzam dan Buzjani di Baghdad berniat melakukan penelitian terkait perbedaan masa geografi dan waktu antara pertengahan hari di dua kota tersebut. Sangat disayangkan, hampir seluruh karya Buzjani musnah. (IRIB Indonesia)

Meunang ti dieu : http://indonesian.irib.ir/hidden-14/-/asset_publisher/fTt3/content/kebudayaan-dan-peradaban-islam-perkembangan-ilmu-astronomi

nu n'tos maca HATURNUHUN